Wadah Bambu, Cara Menghidupkan Budaya Lama dan Memulihkan Perekonomian para Pengrajin Bambu

oleh

CILACAP.INFO – Bulan Syura oleh masyarakat seperti di pulau jawa dianggap bulan yang sakral atau keramat. Pada bulan ini, banyak kelompok adat yang menggelar prosesi, seperti di Cilacap misalnya, ada tradisi sedekah laut.

Akan tetapi tak banyak orang yang tahu, bahwa di satu kabupaten di jawa tengah (jateng) saja, seperti di cilacap ini terdapat banyak prosesi syuroan.

Di Dayeuhluhur ada prosesi yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat yang merupakan keturunan Panjalu Ciamis.

Begitu juga di Dusun Cigintung, Desa Adimulya, Kecamatan Wanareja, yang masih merawat tradisi nenek moyang.

Baca Juga :   Korsleting Listrik Menyebabkan MI Yabaki Kesugihan Terbakar

Cara unik dalam prosesi tersebut perlu dipelajari dan dicermati, bahwa banyak hal yang terkandung dan bahkan dapat mengedukasi.

Daldiri, berikut nama seseorang yang menurut masyarakat sekitar adalah Kiai. Bahwasanya ialah penggerak daripada budaya yang sudah ada dan akan terus dihidupkan.

Era modernisasi mengubah tatanan kehidupan masyarakat begitu juga peralatan, yang semula sesuatunya terbuat dari bahan alamiyah kemudian menjadi plastik.

Hal inilah yang menjadi motivasi Daldiri untuk menghidupkan tradisi atau laku lampuh para leluhur dan akan terus dilestarikan dengan tidak menabrak rambu-rambu keagamaan.

Baca Juga :   Curant Penganten Waterfall Tourism in Karangpucung Cilacap

Daldiri menceritakan, tersimpan pesan tersirat, yakni edukasi dan ekonomi.

Edukasi yang dimaksud yakni, bagaimana cara masyarakat agar dapat melestarikan alam dengan memanfaatkannya.

Selain daripada itu, diketahui bahwa bahan plastik akan mudah membuat lingkungan tercemar, pasalnya plastik tidak dapat terurai. Sedangkan bahan alami dapat terurai dan mengurangi pencemaran lingkungan.

Sedangkan dalam Ekonomi, yakni memanfaatkan alam yang ada. Hal ini dapat membantu memulihkan apa yang dilakukan pengrajin bambu, agar dapat penghasilan dari aktivitasnya itu.