Hikmah Gotong Royong dan Merawat Persatuan

by
Indonesia

Jumat, 13 Agustus 2021/4 Muharam 1443 – Rasulullah ﷺ tidak suka disitimewakan orang lain. Sikap beliau yang penuh kebersamaan di tengah umat membangkitkan semangat perubahan yang luar biasa bagi para sahabat dan pengikutnya.

Rasulullah ﷺ adalah seorang pemimpin dunia, tapi sikap beleiau di tengah umat selalu penuh dengan kebersamaan, begitu merakyat. Sikap ini terlihat saat beliau berkumpul dengan para sahabat hendak mengadakan pesta makan, dengan menyembelih seekor kambing.

Nabi ﷺ saat itu hadir mengikuti musyawarah kecil tersebut. Para sahabat memulai musyawarah itu dengan pembagian tugas. Sahabat-sahabat dengan penuh semangat mulai mengacungkan tangan masing-masing untuk mendapatkan permbagian tugas.

“Saya yang menanggung kambingnya,” kata salah seorang sahabat.

“Saya bagian menyembelih,” kata seorang sahabat lagi, tidak mau kalah.

“Saya bagian menguliti,” kata seorang sahabat yang pandai menguliti hewan buruan.

“Saya siap mengiris dagingnya,” kata seorang lagi.

“Saya siap memasaknya,” kata seorang sahabat yang pandai memasak.

Ketika semua sahabat sudah mendapat bagian, Rasulullah ﷺ yang sedari tadi memperhatikan jalannya rapat, berkata, ”Saya bagian apa?”

“Sudahlah, Ya Rasulullah ﷺ, biarlah para sahabat yang mengerjakan,” kata salah seorang sahabat.

“Saya tidak mau dapat bagian makan saja, saya harus dapat bagian dari pekerjaan bersama ini,” kata Rasululloh ﷺ sambil mendesak.

Semua sahabat yang hadir terdiam mendengar perintah Rasulullah ﷺ. Tentu saja mereka tidak berani memerintah Rasulullah ﷺ, sang pemimpin umat.

“Kalau semua sudah mendapat bagian, baiklah, saya kan mencari kayu bakar dan membantu memasaknya,” sabda Rasululloh ﷺ memecah kebuntuan dalam musyawarah kecil itu.

Demikian akhlaq Rasulullah ﷺ yang begitu mulia dan agung sebagai pemimpin umat. Apa yang beliau lakukan selalu menjadi teladan dalam membangkitkan semangat yang penuh kebersamaan di tengah-tengah umat.

Jari jemari lecet

Kisah lainnya yang membangkitkan kesadaran dalam berdakwah dicontohkan saat beliau dan para sahabat membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islaam.

Sekalipun sudah menjadi pemimpin besar, Nabi ﷺ tidak berpangku tangan dan membiarkan pengikutnya bekerja sendiri. Ketika orang-orang sibuk bergotong royong membangun masjid, beliau larut dalam kesibukan mereka. Rasulullah ﷺ ikut menyisingkan baju, terjun langsung di tengah-tengah para sahabat. Tak segan-segan beliau mengangkat linggis, menggali parit di tengah terik matahari, hingga keringat bercucuran membasahi jubah beliau.

Nabi ikut membawa batu, hingga para sahabat yang melihat kejadian itu meminta beliau untuk tidak turun langsung. Salah seiorang sahabat berkata,” Sudahlah ya Rasulullah, biarlah kami dan para sahabat yang lain yang mengerjakan.

Namun Rasulullah ﷺ terus bekerja ketika para sahabat melihat kondisi Rasulullah ﷺ telah payah oleh pekerjaan berat. Bulir-bulir keringat telah mengucur deras membasahi jubah beliau. Jari jemari pun telah lecet-lecet mengeluarkan darah, karena memecah batu menjadi bagian kecil-kecil, kemudian membaawanya ke lokasi pembangunan masjid.

Melihat pemandangan tersebut, para sahabat kembali meminta agar beliau Rasulullah ﷺtidak melakukan itu. Beliau lalu mengajak bicara kepada jari jemarinya yang mengeluarkan darah tadi di hadapan para sahabat.” Kamu kan cuma jari jemari tangan; sedangkan pekerjaan ini, demi kepentingan agama Alloh ﷻ, jauh lebih penting.”

Demikian akhlaq dan perilaku Rasulullah SAW. Kebesaran dan jabatan yang beliau pikul, tidak membuat beliau berpangku tangan dan memerintah semau sendiri.

Nabi ﷺ selalu berusaha menempatkan diri sama di hadapan orang lain, sekalipun tidak sama dengan manusia yang lainnya (Basyaran lakal basyar).

Inilah cerminan ahlaq Rasulullah ﷺ dalam membangkitkan kebersamaan dengan ikut bergotong royong untuk sebuah perubahan besar di kemudian hari, sebagai sebuah pendidikan bagi umatnya.(***)AST/ Aji Setiawan

Komentar